Kamis, 29 Juli 2021

PERILAKU SEKS BEBAS DALAM PERSPEKTIF KEMANUSIAAN, AGAMA DAN SOSIAL BUDAYA

 I. PERILAKU SEKS BEBAS

Seks bebas dapat diartikan sebagai hubungan intim sepasang manusia untuk memenuhi kepuasan seksual yang dilakukan diluar hubungan yang sah (pernikahan). Perilaku seks bebas di Indonesia dipengaruhi oleh masuknya budaya asing yang tidak terfilter dengan baik. Revolusi seks yang mencuat di Amerika Serikat dan Eropa pada akhir tahun 1960-an sudah merambah masuk ke negeri kita tercinta ini melalui piranti teknologi informasi dan sarana-sarana hiburan lainnya yang semakin canggih. Sekarang, untuk mendapatkan video, gambar dan cerita-cerita tentang seks dan pornografi lainnya sangat mudah, dengan mengunjungi situs-situs di internet yang menyediakan informasi-informasi tersebut seseorang dapat dengan mudah mendapatkannya. Gambar-gambar porno yang mempengaruhi terjadinya perilaku free seks juga disediakan oleh para penjual kaset dan video. Sarana-sarana informasi tersebut yang mempengaruhi maraknya kasus-kasus free seks di Indonesia.


Sejauh ini tercatat banyak kasus free seks di Indonesia yang sebagian besar pelakunya adalah remaja. Berdasarkan hasil penelitian di lima kota di Tanah Air, 16,35% dari 1.388 responden dari kalangan remaja mengaku telah melakukan hubungan seks di luar nikah atau seks bebas. Sebanyak 42,5% responden di Kupang, NTT (Nusa Tenggara Timur), melakukan hubungan seks di luar nikah dengan pasangannya, sedangkan 17% responden di Palembang, Sumatera Selatan dan Tasikmalaya, Jawa Barat, mengaku juga melakukan tindakan yang sama.
Di Singkawang, Kalimantan Barat, 9% remaja responden melakukan seks bebas dan 6,7% responden di Cirebon, Jawa Barat, juga termasuk penganut seks bebas.

Ikuti saya di Youtube

Christo Kolimo - Pebisnis


II. KEMANUSIAAN, AGAMA DAN SOSIAL BUDAYA

1. Manusia Sebagai Makhluk Individu, Sosial, dan Budaya

Manusia Sebagai Makhluk Individu

Kata ”Individu” berasal dari kata latin, ”individuum” artinya ”yang tidak terbagi”. Maksud dari ”yang tidak terbagi” di sini adalah bukan manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Jadi, individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peran dalam lingkungan sosial saja, melainkan memiliki kepribadian dan pola tingkah laku yang khas.

Berkaitan antara individu dengan individu lainnya, suatu individu dapat dikatakan sebagai manusia apabila pola tingkah lakunya hampir identik atau sama dengan pola tingkah laku kelompok sosialnya sehingga muncullah sebuah proses individualitas atau aktualisasi diri. Proses individualitas ini merupakan sebuah proses yang dapat meningkatkan ciri-ciri individualitas seseorang sampai pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, individu merupakan pribadi yang khas menurut corak kepribadiannya atau pola tingkah lakunya.

Manusia sebagai Makhluk Sosial

Suatu individu dapat berkembang menjadi manusia dengan adanya lingkungan atau tempat untuk berkembang dan berinteraksi. Sebagai makhluk individu, manusia pun meiliki peran penting sebagai makhluk sosial. Hal ini disebabkan oleh ketergantungannya setiap individu terhadap orang lain dan tidak mungkin setiap manusia dapat hidup sendiri sejak lahir sampai mati tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia hidup sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial (kecenderungan membutuhkan). Dengan adanya kecenderungan yang bersifat sosial ini, maka muncullah suatu struktur antar hubungan yang beraneka ragam yang disebut dengan kelompok sosial (masyarakat). Dalam kehidupan yang ada, kelompok sosial (masyarakat) ini terdapat penggolongan-penggolongan kelompok, seperti kelompok primer dan sekunder, Gemeinschaft dan Gesellschaft, formal group dan infomal group, community, dan masyarakat desa serta masyarakat kota. Dengan adanya penggolongan-penggolongan kelompok sosial ini, individu dapat menentukan dan memilih sendiri kelompok sosialnya sesuai dengan kepentingan dan tujuan yang sama dengan dirinya.

Manusia sebagai Makhluk Budaya

Pada hakekatnya, manusia sebagai makhluk individu dan sosial merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi dan paling beradab dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya. Oleh karena itu, manusia yang mempunyai tingkatan lebih tinggi dari ciptaan Tuhan yang lainnya dapat dibedakan secara jelas melalui akal dan pikiran. Setiap manusia pasti memiliki pikiran dan akal budi sehingga manusia disebut sebagai makhluk budaya.

Sebagai makhluk budaya, tentunya terdapat suatu nilai-nilai budaya yang tujuannya digunakan untuk mengatur budaya-budaya yang telah ada. Nilai budaya tersebut terdiri dari pedoman budaya dan sistem budaya. Pedoman budaya memiliki pengertian nilai-nilai budaya yang lebih sempit dan merupakan nilai budaya yang biasanya diturunkan dari nenek moyang, sedangkan sistem budaya memiliki pengertian nilai-nilai yang lebih sempit dan biasanya lebih banyak digunakan dalam mayarakat sekarang ini.

2. Agama, Tradisi, dan Budaya

Menurut Selo Soemardjan dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi, kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat yang akan menjadi sebuah pacuan bagi kehidupan bermasyarakat guna mencapai kehidupan yang sejahtera. Sedangakan menurut Koentjharaningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan cara belajar dan semua tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dalam sebuah kebudayaan selalu terdapat cultural universal. Cultural universal diterjemahkan menjadi kebudayaan yang universal atau kebudayaan semesta. Unsur-unsur terbesar dalam satu kerangka kebudayaan dapat dijumpai pada setiap kelompok pergaulan hidup manusia dimanapun di dunia ini. Ada tujuh unsur kebudayaan universal. Adapun yang merupakan tujuh unsur kebudayaan universal adalah peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi), sistem mata pencaharian hidup (ekonomi), sistem kekerabatan dan organisasi sosial, bahasa, kesenian, sistem ilmu danpengetahuan, dan sistem kepercayaan (religi). Bab ini tidak membahas mengenai tujuh unsur kebudayaan universal secara gamblang, tetapi kita akan melanjutkan bab kebudayaan dengan dua unsur didalamnya berupa agama dan tradisi.

Secara etimologis, agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu a berarti tidak dan gam berarti pergi, maksudnya agama berarti tidak pergi tetap di tempat atau diwarisi turun temurun. Dalam bahasa Arab, agama disebut ad-diin yang berarti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Agama dapat diartikan sebagai ikatan yang berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang dapat ditangkap oleh pancaindera, namun mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia.

Agama bersifat mengatur, mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. Ajaran agama bersumber pada wahyu yang berisi petunjuk Tuhan yang diturunkan kepada Nabi atau RasulNya. Agama menjadi pendorong, penggerak serta pengontrol bagi tindakan-tindakan manusia agar tetap sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan di masyarakat itu. Setiap agama mengandung ajaran moral yang menjadi pegangan bagi para pemeluknya.

Selain agama, unsur yang terpenting dalam kebudayaan adalah tradisi. Tradisi merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses lama dan dilaksanakan secara turun temurun. Tradisi juga dapat diartikan sebagai adat kebiasaan yang dimunculkan oleh kehendak atau perbuatan sadar yang telah menjadi kebiasaan sekelompok orang. Faktor penting yang melahirkan adat kebiasaan antara lain: 1. Ada kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan tertentu, 2. Kemudian perbuatan itu dipraktekkan secara berulang-ulang dan menjadi kebiasaan

3. Nilai Cinta Kasih dan Tanggung Jawab

Nilai Cinta Kasih

Cinta kasih merupakan sesuatu yang terdapat dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam maupun manusia dengan dirinya sendiri. Yang dimaksud dengan cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam yang terjadi antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan manusia, manusia dengan alam atau lingkungan dan manusia dengan dirinya sendiri. Simpati disini mengandung maksud pengenalan, sedangkan emosi didalamnya termasuk tanggung jawab, pengorbanan, perhatian, saling menghormati dan kasih sayang.

Untuk mewujudkan cinta kasih maka yang pertama harus mengenali siapa yang dicintai supaya yang bersangkutan dapat menerima sebagaimana adanya. Kedua, kedua pihak mempunyai tanggung jawab yang sama. Ketiga, dalam hubungan tersebut haruslah ada unsur pengasuhan, perhatian, perlindungan dan saling peduli. Kemudian yang keempat adalah harus saling menghormati. Yang lebih ditekankan disini adalah cinta itu mengutamakan memberi bukan menerima.

Bentuk-bentuk cinta kasih, antara lain :

Cinta Terhadap Tuhan

Wujud cinta kepada Tuhan antara lain dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangannya. Beribadah dengan ikhlas, dan senantiasa bertawakal dalam menjalani kehidupan yang diberikan oleh Tuhan juga merupakan wujud cinta kita kepadaNya. Dengan mencintai Tuhan hendaknya kita juga dapat mencintai diri sendiri, manusia lain, dan alam semesta sebagaimana Tuhan mencintai seluruh ciptaanNya.

Cinta Persaudaraan

Manusia merupakan makhluk sosial yang sangat membutuhkan bantuan manusia lain maupun makhluk lainnya. Selain itu manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan hidup yang harus dipenuhi seperti dorongan untuk mempertahankan hidup, dorongan seksual, dorongan untuk mencari makan dan sebagainya. Dengan demikian maka jelaslah bahwa manusia sangat membutuhkan orang lain. Dalam hal ini manusia perlu bekerja sama dan menjalin hubungan baik. Untuk mewujudkan hubungan dan kerja sama yang baik itu maka manusia harus menunjukkan nilai cinta kasih kepada sesama.

Cinta Keibuan

Cinta keibuan adalah cinta yang dimiliki seorang ibu untuk anak-anaknya. Cirinya adalah sikap rela berkorban dan tidak membutuhkan balasan. Ibu berperan sebagai agen yang menyosialisasikan nilai-nilai kehidupan sebagai bekal kehidupan anak di masa mendatang.

Cinta Erotis

Cinta erotis merupakan cinta sepasang manusia yang didasari dorongan seksual. Dalam hal ini perlu diingat bahwa cinta erotis harus pada batasan-batasan tertentu yang sesuai dengan norma atau peraturan yang ada.

Cinta diri sendiri

Mencintai diri sendiri berarti berarti menyadari keberadaan kita, memperhatikan diri kita ataupun menyadari bahwa hidup tidak bisa sendiri. Mencintai diri sendiri berbeda dengan mementingkan diri sendiri. Mementingkan diri sendiri adalah suatu sifat tamak, egois dan tidak memikirkan hak-hak orang lain.

Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah kewajiban melaksanakan tugas tertentu. Tanggung jawab juga dapat diartikan sebagai kesadaran manusia akan tingkah laku, berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Manusia mempunyai berbagai tanggung jawab sesuai peran atau status yang disandangnya. Bentuk tanggung jawab manusia berdasarkan statusnya meliputi tanggung jawab terhadap diri sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga, tanggung jawab terhadap masyarakat dan tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

4. Filter dalam Interaksi Lintas Budaya

Filter adalah penyaring. Filter interaksi lintas budaya yaitu penggunaan akhlak dan budi pekerti. Lebih lanjut lagi, filter merupakan alat untuk menyaring kebudayaan yang masuk. Karena dalam budaya itu ada budaya yang baik dan budaya yang kurang baik, tentunya penentuan baik atau kurang baik ini merupakan suatu konsensus masyarakat. Budaya disiplin dan percaya diri misalnya, dapat kita ambil karena kedua budaya ini merupakan budaya yang baik dan membangun. Sedangkan minum-minuman keras, seks bebas, dan mengkonsumsi narkotika merupakan budaya yang kurang baik yang tidak perlu kita ambil.

5. Penerapan Akhlak dan Budi Pekerti dalam Kehidupan Pribadi dan Sosial Budaya

Sebagai makhluk pribadi, manusia harus memenuhi aturan-aturan yang diterapkan dalam diri pribadinya. Penerapan dari nilai akhlak dan budi pekerti ini adalah hak dan kewajiban yang menyangkut pribadi mereka masing-masing. Namun, manusia tidak hanya memiliki hak dan kewajiban atas diri masing-masing, tetapi juga dalam lingkungan masyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk selalu berinteraksi dengan individu di sekitarnya. Oleh karena itu, manusia senantiasa terikat oleh aturan-aturan sebagai bentuk kesepakatan yang terjadi antara para anggota masyarakat itu sendiri. Sehingga, manusia memiliki hak dan kewajiban yang harus dijalankan atas dasar peran sosial yang melekat pada individu itu sendiri. Penerapan hak dan kewajiban dasar manusia sama pentingnya dengan aplikasi nilai akhlak dan budi pekerti dalam pribadi manusia.

6. Norma Sosial dan Norma Hukum

Norma atau kaidah adalah aturan perilaku dalam suatu kelompok tertentu, dimana setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban di dalam  masyarakat. Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud : perintah dan larangan. Apakah yang dimaksud perintah dan larangan menurut isi norma tersebut? Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik. Ada bermacam-macam norma yang berlaku di masyarakat. Macam-macam norma yang telah dikenal luas ada empat, yaitu:

Norma Agama : Ialah peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah-perintah, larangan-larangan dan ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa “siksa” kelak di akhirat.

Norma Kesusilaan : Ialah peraturan hidup yang berasal dari suara hati sanubari manusia. Pelanggaran norma kesusilaan ialah pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan bersifat umum dan universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia.

Norma Kesopanan : Ialah norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan sehingga masing-masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Akibat dari pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah keyakinan masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.

Norma Hukum : Ialah peraturan-peraturan yang timbul dan dibuat oleh lembaga kekuasaan negara. Isinya mengikat setiap orang dan pelaksanaanya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat negara, sumbernya bisa berupa peraturan perundang-undangan, yuris prudensi, kebiasaan, doktrin, dan agama. Keistimewaan norma hukum terletak pada sifatnya yang memaksa, sanksinya berupa ancaman hukuman. Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan-peraturan hukum bersifat heteronom, artinya dapat dipaksakan oleh kekuasaan dari luar, yaitu kekuasaan negara.

13014957381935697080

http://www.google.co.id/imglanding?q=don%27t+freesex&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&tbs=isch:1&tbnid=xIAo7VpnnrEpuM:&imgrefurl=http://www.sodahead.com/united-states/birth-control-seen-as-way-to-combat-climate-change/question-637291/&imgurl=http://www.proteinpower.com/drmike/wp-content/uploads/2009/03/triumpf_of_death_detail.jpg&ei=xD6TTab6IIOovQOWuqW-CA&zoom=1&w=500&h=353&biw=1024&bih=630

III. PERILAKU SEKS BEBAS DALAM PERSPEKTIF KEMANUSIAAN, AGAMA DAN SOSIAL BUDAYA

Perilaku Seks Bebas dalam Perspektif Manusia Sebagai Makhluk Individu, Sosial, dan Budaya

Manusia sebagai makhluk individu mempunyai hati nurani sebagai control diri yang cenderung berjalan kearah kebaikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia sebagai makhluk individu mempunyai hasrat dan keinginan untuk memenuhi apa yang dia butuhkan. Tidak terkecuali kebutuhan akan kepuasan seksual. Akan tetapi, kebutuhan ini tidak dapat dengan mutlak dipenuhi tanpa syarat. Seks bebas merupakan sebuah cerminan dalam pemenuhan kebutuhan kepuasan seksualitas manusia yang tidak memperhatikan aturan-aturan dan norma yang berlaku di masyarakat sosial. Sedangkan aturan dan norma dalam sebuah sistem masyarakat yang berbudaya, selalu menghendaki keteraturan masyarakat yang patuh terhadap apa-apa yang mereka sepakati. Dalam kesepakatan tersebut senantiasa tertanam tujuan yang baik. Sedangkan seks bebas sama sekali tidak mencerminkan akan tujuan baik tersebut. Jadi seks bebas pada hakikatnya berlawanan dengan hati nurani manusia yang cenderung berjalan kearah kebaikan, juga berlawana terhadap sistem masyarakat dan budaya yang cenderung pada keteraturan masyarakat yang sarat dengan norma.

Perilaku Seks Bebas dalam Perspektif Agama, Tradisi, dan Budaya

Seperti yang telah kita ketahui, agama senantiasa mengajak penganutnya untuk berbuat baik. Perbuatan baik itu tentunya akan bermanfaat bagi kehidupan pribadi manusia dan bagi sesamanya. Seks bebas, dalam perspektif agama, sama sekali bukan merupakan tindakan terpuji, bahkan tindakan tersebut tergolong tindakan yang sangat tercela dan dosa besar jika manusia melakukan tindakan seks bebas. jelaslah bahwa tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan. Agama sebagai pedoman hidup manusia sudah memberikan solusi berupa perkawinan sah yang melegalkan hubungan seks diantara manusia. Berbeda dengan perspektif agama, dalam kacamata tradisi dan budaya perilaku seks bebas belum tentu dianggap sebagai perilaku yang tidak baik. Hal tersebut sangat bergantung dengan masalah nilai dan norma yang disepakati oleh masyarakat. Jika kita lihat budaya barat, disana perilaku seks bebas sudah dianggap biasa, bahkan sudah menjadi tradisi. Bahkan seks bebas telah dianggap sebagai hal yang biasa.

Perilaku Seks Bebas dalam Perspektif Nilai Cinta Kasih dan Tanggung Jawab

Dalam kasus seks bebas, remaja pelaku tidak memperhatikan nilai-nilai cinta kasih dengan sebenarnya. Mereka menganggap cinta erotis adalah alasan mereka melakukan perilaku tersebut, akan tetapi mereka tidak memperhatikan batas-batas moral yang seharusnya dijaga. Akhirnya mereka tidak mau bertanggung jawab atas akibat perbuatannya. Meraka juga melalaikan tanggung jawab mereka pada dirinya sendiri, keluarga, masyarakat maupun kepada Tuhan mereka.

Perilaku Seks Bebas dalam Perspektif Filter dalam Interaksi Lintas Budaya

Seks bebas yang terjadi di kalangan remaja terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap filter interaksi lintas budaya dan implementasinya dalam menyikapi hal tersebut. Oleh karena itu diperlukan pemahaman menyeluruh tentang konsep penyaringan budaya yang masuk. Kita tidak bisa dengan serta merta menerima apapun yang masuk kedalam budaya kita. Kearifan dan sikap yang bijak dibutuhkan dalam menghadapi tantangan mobilisasi budaya yang tanpa batas terjadi didunia ini.

Perilaku Seks Bebas dalam Perspektif Penerapan Akhlak dan Budi Pekerti dalam Kehidupan Pribadi dan Sosial Budaya

Seks bebas, seperti kita tahu merupakan suatu bentuk perbuatan tidak terpuji, tidak sesuai dengan penerapan akhlak dan budi pekerti kita sebagai masyarakat yang berbudaya dan beragama. Dilihat dari sudut pandang penerapan akhlak dan budi pekerti dalam kehidupan pribadi, seks bebas bisa dikatakan merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak pribadi kita sendiri, karena hal tersebut dapat mendatangkan Penyakit Menular Seksual (PMS), infeksi, infertilitas maupun kanker, kemudian jika seorang wanita memiliki bayi hasil hubungan seks bebas, maka hal tersebut juga dapat memicu terjadinya aborsi yang dapat membahayakan hidupnya sendiri. Seks bebas juga dapat dianggap sebagai perbuatan yang tidak menghargai kehidupan. Tingginya angka kematian akibat bunuh diri sebagai dampak hubungan seks bebas juga merupakan contoh lain. Tubuh kitapun memiliki hak untuk mendapatkan kebutuhan seksual, namun dengan cara-cara yang benar dan sah. Oleh karena itu, sudah seharusnya remaja mengerti bahaya-bahaya dan akibat buruk dari seks bebas sebagai pencegahan agar tidak melakukan hal tersebut.

Sebagai makhluk sosial, manusia sangat erat berhubungan dengan manusia lainnya, karena pada dasarnya manusia satu tidak dapat hidup tanpa manusia lain. Oleh karena itu, menjaga hubungan satu sama lain merupakan hal yang penting untuk kelangsungan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat. Salah satunya adalah dengan membangun citra diri yang baik di mata masyarakat. Seseorang yang diketahui masyarakat melakukan seks bebas akibatnya pada sebagian masyarakat yang masih berpegang teguh pada hukum adat adalah dipergunjingkan, dihina, bahkan dikucilkan. Karena pada umumnya seks bebas merupakan hal tabu oleh sebagian besar masyarakat kita. Hal ini tentu dapat menghambat interaksi alami dalam masyarakat. Padahal interaksi tersebut sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yaitu sosialisasi dan berkomunikasi dengan sesamanya. Perasaan tidak berharga dan menurunnya nilai kepercayaan diri juga dapat terjadi akibat kontrol sosial yang dilakukan masyarakat. Oleh karena itu, seks bebas tidak dibenarkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Perilaku Seks Bebas dalam Perspektif Norma Sosial dan Norma Hukum

Seperti yang dijelaskan dalam bab norma sosial dan norma hukum, bahwa norma-norma tersebut selalu menghendaki kebaikan yang berdasarkan kesepakatan bersama. Norma hukum bersifat memaksa. Seks bebas bukan merupakan perbuatan yang taat hukum. Seks bebas juga bukan merupakan suatu norma yang baik yang disepakati masyarakat, konsekuensinya, seks bebas merupakan sebuah tindakan pelanggaran terhadap keteguhan norma dan hukum.

http://metro.kompasiana.com/2011/03/30/perilaku-seks-bebas-dalam-perspektif-kemanusiaan-agama-dan-sosial-budaya/


Artikel ini adalah tugas Etika Kristen pada tahun 2011 di Fakultas Teologi UKAW

Selasa, 03 Juli 2018

INDONESIA DAMAI



INDONESIA DAMAI: Lewat karya berjudul Reuni RI, Wuri Hantoro mengajak masyarakat mencontoh para pemimpin yang akur. Harapannya, segera tercapai cita-cita gemah ripah loh jinawi.







JOGJA – Tujuh figur pemimpin Indone-sia kompak dalam satu group musik. Mulai Presiden pertama Republik Indo-nesia (RI) Soekarno hingga Joko Widodo. Ketujuh sosok ini tertuang dalam lukisan berjudul Reuni RI karya Wuritual.Ketujuh pemimpin bangsa ini terlihat akur saat memainkan alat musik masing-masing.


Sang seniman Wuri mengung-kapkan, ini wujud akurnya seorang pe-mimpin. Karya ini sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat bersatu da-lam membangun bangsa Indonesia.”Selama ini kita selalu disuguhkan kon-flik yang tidak rampung-rampung. Pada-hal di kalangan atas antarpemimpin itu akur. Justru di kalangan bawah yang sering terjadi konflik. Seakan benar-benar me-rindukan Indonesia yang damai dan tenteram,” ungkap Wuritual di ruang pa-mer Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu malam (26/12).
Pemilik nama lengkap Wuri Hantoro ini sengaja menggambarkan keakuran para pemimpin bangsa. Mulai Jokowi yang digambarkan sedang bermain gitar akustik, hingga sosok Presiden pertama RI Soekarno yang meniup saxophone.Musik dipilih sebagai media pemer-satu. Karena sifatnya universal. Menurut-nya, musik bisa diterima semua elemen masyarakat. Melalui musik pula ingin mengemas simbol simponi yang indah.”Saat para pemimpin di atas akur, se-harusnya bisa menjadi contoh masyara-kat di bawahnya.


Bagaimana caranya kita bersatu demi kemajuan bangsa In-donesia. Mreka adalah sayap-sayap bangsa ini. Harapan melalui lukisan ini agar Indonesia tetap damai gemah ripah loh jinawi,” kata pelukis kelahiran 8 Ok-tober 1972 ini.
Karya Wuri ini merupakan salah satu karya yang tersaji dalam pameran bertajuk A(rt) Ves Attact #2, Sayap-Sayap. Pame-ran ini menampilkan karya para seniman yang tergabung dalam Perupa Pecinta Unggas (PPU). Di mana, para seniman memiliki hobi yang sama dalam meme-lihara unggas. Konsep dalam pameran ini tak jauh dari unggas. Mengambil tema kecil Sayap-Sayap sebagai konsep pame-ran. Kurang lebih 40 perupa terlibat da-lam pameran ini. (dwi/hes/ong)


Edit By TK

Selasa, 05 Juni 2018

Presiden Ingin Masyarakat Demam Asian Games

Presiden Ingin Masyarakat Demam Asian Games

Perhelatan besar Asian Games XVIII yang semakin dekat membuat pemerintah semakin terpacu untuk menyukseskan gelaran tersebut. Tahun ini, Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah pelaksanaan untuk yang kedua kalinya sejak tahun 1962.

Tak hanya pemerintah, masyarakat juga diharapkan untuk turut serta menyukseskan ajang pesta olahraga se-Asia tersebut. Terkini, guna mempromosikan ajang tersebut agar dikenal semakin luas, Presiden Joko Widodo mengundang sejumlah atlet dan figur publik untuk berbicara dan bertukar pikiran bersama dengan pemerintah.

"Tahun ini, sebentar lagi, kita akan mempunyai sebuah perhelatan besar yang namanya Asian Games yang ke-18 di Tahun 2018 ini. Akan diikuti oleh 49 negara. Ini perhelatan yang besar," ujar Presiden mengawali pembicaraan di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 5 Juni 2018.

Presiden berujar, pihaknya menginginkan agar demam Asian Games edisi ke-18 kali ini lebih dirasakan gaungnya di masyarakat. Saat ini, ia memandang hal itu belum tercapai secara luas. Oleh karenanya, ia memberikan sebuah tugas khusus kepada mereka yang hadir dalam kesempatan ini.

"Ini baru hangat, belum demam. Oleh sebab itu, saya mengumpulkan Bapak/Ibu dan saudara di sini. Negara memanggil saudara semua untuk mendemamkan Asian Games yang ke-18 ini agar masyarakat menjadi demam semua," tuturnya.

Sejumlah atlet Tanah Air tampak hadir dalam pertemuan ini. Di antaranya ialah pasangan ganda campuran bulu tangkis Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, serta pasangan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma yang juga pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Di samping itu, turut hadir para musisi dan pekerja seni antara lain Marcell Siahaan, Once Mekel, Andre Hehanusa, Oppie Andaresta, Yuni Shara, Gading Marten, Indra Bekti, Indy Barends, dan Irfan Hakim.

Sebelumnya, dalam sejumlah pelaksanaan rapat terbatas bersama dengan jajaran terkait, Kepala Negara selalu menekankan pentingnya promosi agar masyarakat semakin tertarik dan berperan serta menyukseskan Asian Games XVIII yang digelar tahun ini.


Jakarta, 5 Juni 2018
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden

LAI dan Gerakan Oikoumene Akar Rumput

LAI dan Gerakan Oikoumene Akar Rumput
Oleh Sigit Triyono (Sekum LAI)
www.alkitab.or.id  IG: lembagaalkitabindonesia


Realitas menunjukkan di Indonesia ada setidaknya 323 Sinode Gereja yang terdaftar di kantor Bimas Kristen Protestan Kementerian Agama RI. Di sisi lain sejak 1950 cita-cita untuk mempersatukan Gereja melalui Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) sampai saat ini baru mampu menghimpun 89 Sinode Gereja. Persentasenya baru 27,55% Sinode Gereja di Indonesia yang masuk dalam arak-arakan struktural kebersatuan Gereja. Perjalanan 68 tahun PGI ternyata belum cukup mampu merealisasikan adanya “Gereja yang satu” di Indonesia.
Perbedaan doktrin, ajaran, dan atau denominasi Gereja sangat mengkin terus terjadi dan dapat menimbulkan ketidakbersatuan umat Kristen di Indonesia. Lokasi, liturgi, pilihan lagu-lagu pujian, gaya kotbah, dan berbagai perlengkapan teknologi gedung Gereja,  seringkali membuat umat memiliki referensi pilihan dalam ber-gereja. Realitas menunjukkan berbagai alasan lain dapat membuat umat Kristen di Indonesia semakin bertambah sulit dipersatukan dalam satu wadah sinode Gereja.
          Fenomena di atas lagi-lagi menunjukan  perjuangan yang semakin tidak mudah dalam mempersatukan umat Kristen di Indonesia. Lalu unsur apa yang masih memungkinkan menjadi  harapan dalam gerakan kebersatuan atau oikoumene? Kenyataan di lapangan menunjukkan sesungguhnya umat Kristen dan Katolik di “akar rumput” sudah lama menjalin kebersatuan yang sangat riil. Betapa tidak, hampir 100% sinode Gereja-gereja Kristen di Indonesia, bahkan plus Gereja Katolik, semuanya menggunakan Alkitab yang sama, yaitu Alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia.
          Alkitab menjadi simbol kebersatuan umat Kristen dan Katolik di Indonesia. Apapun sinode Gerejanya, Alkitabnya berasal dari LAI. Tidak bermaksud membesar-besarkan realitas yang ada, namun memang begitulah adanya.  Saya pribadi sudah berhubungan intens melalui berbagai forum dengan berbagi Sinode Gereja di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Bali, Timor, Alor, Sumba, sampai Papua, yang semuanya menggunakan Alkitab terjemahan LAI. Hal ini juga tercatum dalam dokumen LAI yang menyebutkan  bahwa Lembaga Gereja Tingkat Nasional (PGI, KWI, PGLII, PGPI, PBI, Bala Keselamatan, GMAHK, dan GOI) semuanya terlibat dalam karya terjemahan Alkitab yang diterbitkan LAI. Itu menunjukkan mereka menerima dan menggunakan Alkitab terjemahan LAI.
          Dengan realitas di atas maka Alkitab di Indonesia dapat menjadi pemersatu yang riil dan melaluinya dapat dikembangkan kepada aspek lain yang sungguh mendukung gerakan oikoumene. Sebagai contoh konkret, dalam tiga bulan terakhir saya keluar masuk Gereja di berbagai wilayah dan denominasi untuk mensosialisasi gerakan “Alkitab Untuk Semua”. Dengan sosialisasi gerakan ini diharapkan semakin banyak Gereja dari sinode apapun ikut bergabung dalam arak-arakan dan pelayanan bersama LAI. Hasilnya sungguh sangat luar biasa. Antusiasme umat sangat terasa. Solidaritas mereka untuk membantu pengadaan Alkitab bagi saudara-saudara seiman di daerah pelosok dan terpencil di Indonesia sangatlah besar.
          Contoh lain adalah program Pendidikan Alkitab yang diselenggarakan di Gedung Pusat Alkitab Jalan Salemba No 12 Jakarta Pusat mendapat sambutan yang “mbludak” dari umat berbagai denominasi Gereja. Malahan umat Katolik memperlihatkan antusiasme yang sangat besar dalam belajar Alkitab. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa Alkitab di Indonesia terbukti mampu mempersatukan umat Kristen di akar rumput dalam kerjasama yang nyata.
          Masih ada peluang lain yang dapat dikembangkan untuk merealisasi semangat oikoumene di akar rumput, antara lain adalah dengan: gerakan Aku Cinta Alkitab,  menjadi Sahabat Alkitab, Ekspedisi Alkitab Untuk Semua, Membaca seluruh Alkitab dalam satu tahun, mendukung karya terjemahan Alkitab ke berbagai Bahasa daerah, Pendidikan Alkitab Liburan, mendukung gerakan Satu Alkitab untuk setiap Kelahiran Baru, dan lain-lain.
          Cita-cita kebersatuan Gereja di Indonesia ternyata sungguh dapat diwujudkan melalui hal-hal yang konkret dalam keseharian umat Kristen di akar rumput. Baiklah para “elit” Gereja melakukan rapat-rapat, diskusi, seminar, lokakarya, konferensi, konsultasi, kongres, musyawarah, dan berbagai forum lain untuk mewujudkan kebersatuan Gereja di Indonesia. Akan lebih dahsyat lagi bila secara paralel bentuk-bentuk riil ekumenikal berbasis “Alkitab yang sama” dapat terus dikembangkan di seluruh Indonesia.
SalamAlkitabUntukSemua.

Kamis, 31 Mei 2018

PANCASILA: DARI PUNCAK KEJAYAAN MAJAPAHIT HINGGA PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945

PANCASILA: DARI PUNCAK KEJAYAAN MAJAPAHIT HINGGA PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945
Oleh Dr Bambang Noorsena

Secara etimologis, kata "Pancasila" berasal dari bahasa Jawa kuno, yang sebelumnya diserap dari bahasa Sanskerta dan Pali, yang artinya "sendi dasar yang lima" atau "lima dasar yang kokoh". Mula-mula kata "sila" dipakai sebagai dasar kesusilaan atau landasan moral Buddhisme, yang memuat lima larangan.

Sebagaimana disebutkan dalam Tipitaka, kelima sila itu dalam bahasa Pali adalah sebagai berikut:

1. _Pānātipātā veramani sikkhapadamsamādiyāmi_ (Aku melatih diri untuk menghindari pembunuhan);
2. _Adinnādānā veramani sikhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan);
3. _Kāmesu micchācāra veramani sikkhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila);
4. _Musāvāda veramani sikhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar, berdusta, atau memfitnah).
5. _Surāmeraya majjapamādatthān veramani sikkhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan).

Dalam makna "lima dasar moral" yang harus dijatuhi tersebut, maka istilah Pancasila di negara kita sudah kita kenal sejak zaman Majapahit. Istilah ini dijumpai baik dalam karya Mpu Tantular dalam bukunya *"Kekawin Sutasoma"* (ditulis tahun 1384 M), maupun karya Mpu Prapanca yang ditulis sebelumnya dalam sastra pujanya yang berjudul *"Kekawin Negara Krtagama"* (ditulis tahun 1367 M).
Jadi, kedua pujangga itu hidup pada masa puncak kejayaan Majapahit, yang dikenal sebagai negara nasional ( _Nasionale Staat_ ) yang kedua, yaitu setelah kedatuan Sriwijaya dan sebelum Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam *Kekawin Sutasoma*, istilah Pancasila disebutkan 2 kali, yaitu dalam _seloka-seloka_ suci yang dalam bahasa Jawa kuno bunyinya:

*Bwat Bajrayana Pancasila ya gegen den teki hawya lupa!*
Artinya: "Bagi yang mengikuti vajrayana, Pancasila harus dipegang teguh, jangan sampai dilupakan" (Sutasoma 145:2).

Dalam _pupuh_ lain dari _Kekawin_ yang sama, Mpu Tantular mencatat pula:

*Astam sang catursrameka tarinen ring Pancasila Krama!*
Artinya: "Wajibkanlah kepada semua anggota catur asrama supaya Pancasila dijalankan secara teratur" *(Sutasoma 4:4).*

Selanjutnya, dalam *Kekawin Negara Krtagama*, kata Pancasila dijumpai dalam _seloka_ yang berbunyi:

*"Yatnagegwani Pancasila krtasangskara bhisekakrama".*
Artinya: "Sang Raja selalu waspada dan teguh memegang Pancasila, berlaku mulia, dan menjalankan upacara agama" *(Negara Krtagama 43:2).*


*PANCASILA DIGAUNGKAN KEMBALI DALAM PIDATO BUNG KARNO, 1 JUNI 1945.*

Dalam pidatonya tanpa teks di depan sidang _Dokuritsu Zunbi Tyusakai_ (Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan), Bung Karno menggaungkan kembali Pancasila sebagai nama dasar negara kita, untuk memenuhi pertanyaan Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, yaitu apa dasarnya Indonesia merdeka yang akan didirikan.

Menurut Bung Karno, yang diminta dr. Radjiman tidak lain adalah *_Welthanchauung_* atau *_Philosofische Gronslag_* (Dasar Filsafat) yang di atasnya Negara Indonesia merdeka akan didirikan. Dalam pidato yang akhirnya dikenal sebagai "Lahirnya Pantja-Sila" itu, Bung Karno mengusulkan dasar-dasar sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Istilah Pancasila diusulkan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang bersejarah itu, pada tanggal 1 Juni 1945.

"Sekarang", kata Bung Karno, "banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi", yang disambut dengan tepuk tangan riuh.

Setelah melalui proses perumusan ulang, pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 tersebut, kemudian dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945, Alinea 4, yang lengkapnya berbunyi:

1. Ketuhanan yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


*MENGAPA MAJAPAHIT MENJADI SUMBER INSPIRASI, BUKAN BUGIS, BANTEN ATAU MATARAM?*

Dalam pidato "Lahirnja Pantja-Sila", Bung Karno menekankan bahwa kita adanya dua kali mengalami _Nationale Staat_, yaitu di zaman Sriwijaya dan Majapahit. Selain kedua negara itu, kita tidak mengalami negara nasional. Bung Karno memberi contoh, Mataram, Pejajaran, Banten, dan Bugis adalah negara-negara berdaulat, negara-negara merdeka, tetapi bukan negara nasional.
Itulah sebabnya para pendiri bangsa, banyak terinspirasi oleh Majapahit. Dari Majapahit kita mengambilalih istilah Pancasila sebagai nama Dasar Negara, salam nasional kita "Merdeka", dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai "sesanti" dalam lambang negara kita.

Demak, Mataram, Bugis, Banten tidak pernah berhasil mempersatukan Nusantara, karena landasan dalam bina negara bukan sebuah "welthansauung" dari semua, oleh semua dan buat semua, melainkan berasas primordialitas agama tertentu. Terbukti bahwa sistem teokrasi atau negara agama, tidak pernah bisa mempersatukan Nusantara yang sangat majemuk.

Selanjutnya, sama-sama negara nasional yang wilayahnya bahkan lebih besar dari NKRI sekarang, mengapa para pendiri bangsa lebih terinspirasi oleh Majapahit, bukan Sriwijaya? Dasar negara kita, misalnya, namanya tidak diambil dari Sriwijaya? Saya pernah menyampaikan hal ini kepada Pak Taufiek Kiemas (almarhum), ketika empat pilar MPR pertama digagas, dan pada waktu itu saya sebagai salah satu narasumber. Faktanya, dokumentasi tertulis Sriwijaya tidak selengkap Majapahit, yang telah mengabadikan prinsip-prinsip kehidupan bina negara dalam sejumlah prasasti, lontar-lontar perundang-undangan, dan sejumlah besar karya sastra yang sampai sekarang masih dibaca dan terus dilestarikan di pulau Bali.

Sebelum saya mempresentasikan makalah "Bhinneka Tunggal Ika: Sejarah, Filosofi dan Relevansinya". Semua peninggalan sejarah itu tidak ada lagi di Jawa, tetapi justru diwariskan utuh-utuh kepada kita dari Pulau Dewata. Orang Jawa tidak lagi berbicara dalam bahasa Jawa kuno, tetapi di Bali bahasanya Mpu Tantular dan Mpu Prapanca ini masih dilestarikan dalam bentuk sastra kekawin.

Ada yang mengatakan bahwa "teman ahli bahasa" yang dimaksud Bung Karno dalam pidatonya itu Pak Yamin. Tetapi yang lain bilang Ida Bagus Sugriwa, salah seorang putra Bali yang turut dalam sidang-sidang menjelang kemerdekaan RI. Baik Profesor Yamin maupun Ida Bagus Sugriwa adalah dua orang yang agaknya berdiskusi dengan Bung Karno, yang disebut ya "seorang teman ahli bahasa".

Meskipun Yamin adalah seorang putra Minang, namun sebagai ahli kebudayaan dan bahasa, dikenal sudah lama bersentuhan dengan segala hal yang berkenaan dengan kebesaran Majapahit. Konon, di sela-sela Sidang BPUPKI antara Mei-Juni 1945, Yamin yang mula-mula menyebut ungkapan "Bhinneka Tunggal Ika", I Gusti Bagus Sugriwa yang duduk di sampingnya spontan melengkapi sambungan ungkapan itu “Tan hana dharma mangrwa" (Tidak ada kebenaran yang mendua).
Keakraban keduanya seperti tampak dalam penggalan catatan sejarah di atas, membuktikan bahwa kedua sahabat Bung Karno ini memang sangat mendalami karya-karya Jawa kuno. Lebih-lebih Ida Bagus Sugriwa, sebagai putra Bali dari Buleleng, menjadi saksi hidup bahwa di Bali istilah-istilah seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Mahardhika, dan sebagainya, adalah ungkapan-ungkapan yang masih hidup, dihayati, dan dilestarikan selama berabad-abad melalui sastra Kekawin. Bali adalah museum hidup Majapahit yang masih tegak berdiri sampai hari ini.

Selain naskah Leiden, sumber rujukan lontar Sutasoma yang banyak menginspirasi para bapa bangsa di awal kemerdekaan, yang mungkin dibaca saat itu. Jadi, sangat mungkin sebelum mengucapkan pidatonya, Bung Karno mendiskusikannya dengan Yasin dan Ida Bagus Sugriwa.

Majapahit menjadi inspirasi para bapa bangsa, bukan hal yang kebetulan. Negara nasional Kedua ini tidak hanya memberikan kebanggaan sebagai inspirasi untuk menghadirkan keagungan sejarah yang pernah ada, tetapi juga telah memberikan model dalam mengelola warisan pluralisme bangsa. Jadi, bukan hanya istilahnya yang kita warisi, tetapi pemikiran filsafat kenegaraan yang dibangun di atas jiwa merdeka yang terbuka, toleran, bahkan secara aktif berbagi dalam kebersamaan untuk merenda masa depan bangsa dan umat manusia.

Selamat memperingati Hari Lahirnya Pancasila! *

MERDEKAAAA !!

Biarkan Jokowi tetap menjadi Presiden 2019

Pengakuan-pengakuan Mengejutkan Jokowi


Apa pengakuan-pengakuan mengejutkan Jokowi? Ia mengakui bahwa sebagai seorang incumbent, seorang petahana, dia telah dan sedang dihantam bertubi-tubi. Tetapi dia mengaku bahwa dia tidak bisa menyerang balik secara frontal. Dia lebih banyak bertahan dan menangkis serangan.

Mengapa dia tidak bisa menyerang? Karena di seluruh dunia, pemerintah yang sedang berkuasa, termasuk pemerintahannya, menginginkan kestabilan, ketenangan dan kedamaian. Jika dia menyerang balik, maka keadaan semakin hiruk-pikuk, gaduh dan ribut. Jika publik kemudian melihat Jokowi jarang menyerang partner demokrasinya, itu karena alasan di atas. “Lebih mudah merebut kekuasan dari pada mempertahankannya”, kata Jokowi. Lalu apa pengakuan Jokowi selanjutnya?

Jokowi mengaku bahwa saat dia memulai pemerintahannya, dia melihat perusahan negara, Petral, anak perusahaan Pertamina, sarat dengan para mafia. Ratusan triliun negara setiap tahun, mengalami kerugian akibat permainan mafia di Petral. Ketika dia mengeluarkan perintah untuk membubarkan Petral, dia ditakut-takuti oleh banyak pihak. Katanya, jika Petral di bubarkan, negara bisa runtuh. Diapun bisa jatuh. Sangat menakutkan.

Menteri dan tim yang diperintahkan untuk membubarkan Petral, tiga kali bertanya kepadanya. “Apakah Bapak Presiden telah matang-matang untuk membubarkan Petral? Apakah Bapak Presiden sudah sadar betul dampak, resiko dan konsekuensi jika membubarkan Petral?”

Bayangkan menterinya sendiri terpapar ketakutan dan ikut-ikutan menakuti Jokowi. Apa Jawaban Jokowi? “Bubarkan Petral!” Perintah Jokowi tegas. Akhirnya Petral dengan tegas dibubarkan. Lalu apa yang terjadi ketika Petral sudah dibubarkan? Sampai kini, tidak terjadi apa-apa. Ternyata pemerintah sebelumnya tidak berani membubarkan Petral karena takut.

Jokowi mengaku bahwa saat dia memulai pemerintahannya, dia melihat pencurian ikan di laut Indonesia terjadi secara masif. Ratusan juta ton ikan di laut Indonesia dicuri oleh negara lain. Lalu dia memberi perintah kepada Menteri Susi untuk menenggelamkan kapal-kapal asing itu. Jokowi mengaku bahwa Menteri Susi sendiri datang tiga kali bertanya kepadanya.

“Apakah Bapak Presiden benar-benar menenggelamkan kapal-kapal asing yang mencuri ikan? Apakah Bapak Presiden sadar reaksi marah negara-negara yang kapalnya ditenggelamkan? Apakah Bapak Presiden sudah tahu bahwa ada ‘orang-orang besar’ dari dalam negeri ikut bersengkokol mencuri ikan-ikan kita?” tanya Menteri Susi.

Bayangkan Menteri Susi sendiri ikut menakut-nakuti Jokowi. Lalu apa reaksi Jokowi? “Tenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan!” Perintah Jokowi tegas. Sejak dimulainya penenggelaman kapal-kapal asing, sudah lebih seribu kapal ditenggelamkan. Sampai kini tak terjadi apa-apa, termasuk serangan dari ‘orang-orang besar’ itu. Kini ikan-ikan di laut Indonesia dinikmati oleh orang Indonesia sendiri. Sekarang ekspor ikan Indonesia terus meningkat. Ternyata pemerintah sebelumnya menutup mata atas pencurian ikan karena takut ditakut-takuti.

Jokowi mengaku bahwa saat dia pergi ke Papua, dia mendengar dan melihat langsung harga BBM di lapangan yang selangit. Mengapa bisa terjadi begini? Siapa mafia yang bermain? Itu pertanyaan besar di benak Jokowi. Jokowi kemudian mengeluarkan perintah untuk menyamakan harga BBM di Papua yang seliternya Rp. 50.000 bahkan bisa sampai Rp. 100.000,- Harga itu harus sama harganya di Pulau Jawa yang Rp. 6.500 perliter. Para pejabat di kementerian BUMN, khususnya di Pertamina, berulang-kali menakut-nakutinya. “Itu adalah mimpi di siang bolong. Butuh biaya, usaha besar untuk mewujudkan satu harga BBM. Bisa-bisa Pertamina rugi besar dan bangkrut”, kata mereka. Lalu apa respon Jokowi?

“Samakan harga BBM di Papua dengan Jawa!” Perintah Jokowi tegas. Jokowi kemudian bolak-balik ke Papua untuk memastikan harga BBM satu harga. Setelah setahun berjuang berdarah-darah, harga BBM di Papua kini sama dengan Jawa. Demi rakyat Papua, Pertamina lewat orang-orang yang punya tekad tinggi membangun bangsa, berjuang setiap hari menantang medan berat untuk menyalurkan BBM di berbagai pelosok di Papua dan memastikan harganya sama dengan di pulau Jawa. Perjuangan berdarah-darah ini tak banyak orang yang tahu, tak banyak orang yang mengapresianya.

Saat demo besar 212 di Monas, seluruh menteri termasuk Menkopolhukam, Panglima TNI, Kapolri dan komandan Paspampres tak setuju mendatangi para demonstran di Monas. “Demi keamanan, Bapak Presiden sangat tidak disarankan ke Monas”! Lalu Jokowi menghitung.“Berapa menit kita jalan kaki ke sana?” tanya Jokowi. “Tujuh menit”, jawab ajudannya. "Saya harus ke sana. Tetapkan waktunya", kata Jokowi. “Jam 11.50 WIB”, jawab ajudan.

Begitu jam 11.40, situasi di istana masih menegangkan. Semua diam. Tak satupun yang berani mendorong Presiden Jokowi ke Monas. “Jam 11.41, Jokowi bangkit. “Mari kita ke Monas jalan kaki”. Di tengah jalan bertemu dengan JK yang berencana sholat ke Mesjid. Tetapi ketika JK diberitahu bahwa Jokowi ke Monas, JK kemudian berbalik langkah dan ikut dalam rombongan Jokowi. Setibanya di Monas, para pengawal hanya mengijinkan Jokowi di bawah panggung untuk mengucapkan sesuatu. Tetapi Jokowi ngotot naik ke atas panggung. Di atas panggung, Jokowi mengucapkan sebuah pidato singkat 2 menit. Setelah pidato, Jokowi segera balik ke istana dengan aman.

Jokowi mengaku bahwa saat dia memulai pemerintahannya, HTI yang tujuannya mendirikan negara khilafah, sudah berakar-berurat di seluruh wilayah Indonesia. Dia heran mengapa organisasi ini yang di banyak negara sudah dilarang, tetapi di Indonesia masih berdiri kokoh? “Bubarkan HTI lewat Perpu”! Dia pun ditanya tiga kali oleh Menkopolhukam Wiranto, Kapolri dan pejabat keamanan lain.

“Apakah Bapak Presiden sudah memikirkan matang-matang untuk membubarkan HTI? Apakah Bapak Presiden sudah sadar betul resiko dan dampak lain jika ormas ini dibubarkan?” Bayangkan, Menteri Wiranto ikut menakut-nakuti Jokowi. Lalu apa respon Jokowi? “Bubarkan HTI besok” Perintah Jokowi tegas. Esoknya HTI dibubarkan. Semua melongo dan menganga. Sejak HTI dibubarkan, keadaan baik-baik saja. Ternyata pemerintah sebelumnya tidak berani membubarkan ormas ini karena takut ditakut-takuti.

Jokowi mengaku bahwa jika ia rakus dengan prestasi ekonomi, silau pujian, maka ia hanya membangun pulau Jawa. Jika ia mau, ia bisa mengucurkan anggaran besar-besaran untuk membangun ekonomi di pesisir Jawa. Ekonomipun bisa dipastikan dengan cepat tumbuh hingga 7 persen. Lalu mengapa Jokowi tidak melakukannya? Keadilan sosil. Pemerataan. Itulah jawaban Jokowi. Ia membangun Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, demi keadilan sosial, demi pemerataan. Pembangun infrastruktur sekarang tidak langsung dinikmati hasilnya sekarang tetapi 20 tahun ke depan dan bukan di era pemerintahannya.

Jokowi mengaku bahwa seorang pemimpin harus mengambil keputusan-keputusan berani dan tepat. Keputusan-keputusan yang diambil tentu saja bukan tanpa perhitungan. “Ada hitung-hitungnya”, kata Jokowi.

Itulah pengakuan-pengakuan mengejutkan Jokowi. Ternyata menjadi Presiden itu berat. Jadi biarkan Jokowi tetap menjadi Presiden 2019 mendatang.

Asaaro Lahagu

TAK KAN LARI WIBAWA DIKEJAR Oleh: Reinhard Samah Kansil



Sabda Bina Diri (Hari ke 279)
Kamis, 31 Mei 2018, Titus 2:15

TAK KAN LARI WIBAWA DIKEJAR
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Wibawa bukanlah pembungkus jiwa sampah yang busuk.
Wibawa adalah pembungkus jiwa berharga yang harum.

Beritakanlah dengan wibawa Ilahi.
Rasul Paulus menutup pasal 2 dengan ayat 15 ini, dengan sebuah petunjuk singkat untuk Titus. Kita mendapati pokok dan cara pengajaran hamba-hamba Tuhan, dan sebuah petunjuk khusus untuk Titus berkenaan dengan dirinya sendiri.

Paulus mengingatkan Titus untuk: pertama, memberitakan kabar kesukaan tentang kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua orang, bahwa Kristus telah menyerahkan diri-Nya untuk memebebaskan kita dari segala kejahatan.

Tugas gereja untuk memberitakan Injil barangkali hanya membuat seseorang menjadi Kristen. Dan jika tidak diikuti dengan berbagai pembinaan, maka pada akhirnya orang-orang Kristen tersebut tidak mempunyai perbedaan yang berarti dengan orang-orang lainnya.

Bagaimana metode pengajarannya? Dengan ajaran, dan nasihat, dan teguran dengan segala KEWIBAWAAN. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Artinya, mengajarkan ajaran yang sehat, meyakinkan tentang dosa dan membuktikan kesalahan, memperbaiki hidup, dan terus melakukan hal yang adil dan baik.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik yang harus dikerjakannya sendiri atau diajarkan kepada orang lain.

Inilah yang akan memperlengkapi seluruh bagian kewajibannya, dan pelaksanaannya yang benar. “Beritakanlah semuanya itu dengan wibawa Ilahi”.

Pembinaan Jemaat.
Dua hal penting yang harus dilakukan agar pemimpin Gereja beroleh hidup kekal yaitu: menerima kasih karunia dari Allah serta bertobat dari kehidupan duniawi.

Oleh karena itu gereja tidak boleh lalai melaksanakan tugasnya untuk pemberitaan Kabar Baik dan pembinaan jemaat. Kedua tugas ini menjadi tanggung jawab setiap Kristen. Dan dilaksanakan dengan penuh kewibawaan.

Wibawa adalah cara membawa diri seseorang sehingga mempengaruhi orang lain menjadi hormat pada Tuhan. Pemimpin jemaat yang berwibawa akan dihormati melalui sikap dan perilaku yang sesuai dengan apa yang diajarkannya.

Cara terbaik untuk berwibawa adalah mengenal dirimu sendiri dengan sebaik mungkin. Kemudian menampilkan sosok terbaik dari dirimu.

Orang yang tak berwibawa selalu menjaga wibawanya. Orang yang berwibawa tidak perlu repot-repot menjaga wibawanya, karena wibawanya tak akan lari.

KITA BISA SAJA MEMOLES DIRI AGAR TERLIHAT BERWIBAWA. TAPI PADA AKHIRNYA TINDAKAN-TINDAKAN KITALAH YANG MENENTUKAN WIBAWA KITA.

#Salam_WOW

Perkembangan konflik dan upaya perdamaian Israel vs. Gaza/Palestina

Dalam konflik Israel vs. Gaza/Palestina, berbagai pihak dan entitas memainkan peran yang berbeda. Di bawah ini, saya akan merinci beberapa e...